Senin, 12 November 2012

Bangunan Cagar Budaya Di Kabupaten Kulon Progo



A. Tembok Kantor Kecamatan Pengasih
Sekilas jika dilihat tembok Kecamatan Pengasih yang merupakan tembok pagar Kantor Kecamatan Pengasih tersebut tidak ada bedanya dengan tembok biasa dan banyak orang tidak mengetahui keberadaan sisi sejarahnya. Namun dibalik itu semua ternyata mempunyai nilai historis yang sangat penting atas keberadaan kabupaten Kulon progo. Keberadaan tembook tersebut berada di Jalan Purbowinoto No. 06 Pengasih, Kabupaten Kulon Progo.
kecamatan pengasih
Memang tak ada yang mengira kalau tembok tersebut bernilai historis yang tinggi, hal ini berkaitan erat dengan Kabupaten Kulon progo sebelum bergabung dengan kabupaten Adikarta. Dan setelah bergabung kedua kabupaten tersebut ibu kota kabupaten berpindah ke Wates, sedangkan tempat lama dipakai sebagai Kantor kecamatan Pengasih. Tembok yang masih tersisa saat ini yang menjadi bukti sejarah merupakan pembatas antara rumah rumah penduduk dengan kantor kecamatan pengasih. Sedangkan gedung yang dulunya merupakan perkantoran pemerintah hampir sudah tidak tersisa lagi.
Pada masa agresi militer Belanda kedua tahun 1948 bangunan tersebut hampir saja dibumi hanguskan namun lurah pertama desa tersebut berhasil mencegahnya dan masih berdiri utuh hingga sekarang. Ini merupakan satu-satunya peninggalan Belanda yang ada yang lain yang seumuran dengan bangunan disekitar tembok tersebut sudah rata dengan tanah.  Ketinggian tembok mencapai 150 meter yang berada di sebelah barat Goa sedangkan di Sebelah timur setinggi 200 meter dengan ketebalan masing-masing 40 cm dengan bahan bangunan berupa batu bata serta batu kali utuh. Arsitektur atau bentuk gapura yang sebagai pintu masuk ke kantor kecamatan tersebut berbentuk semar tinandu.
Berulangkali tembok ini seiring perkembangan jaman mulai terusik dan teancam dirobohkan , salah satu saat pembangunan akses jalan menuju waduk sermo diperlebar yakni di jalur sentolo Sermo. Walau hanya berujud tembok karena mempunyai nilai sejarah yang tinggi maka keberadaan Tembok dan gapura tersebut merupakan benda cagar budaya yang harus dilestarikan dan dipertahankan keberadaanya. Dan hal inipun sering menjadi pertentangan namun pada akhirnya beberapa pihak setuju akan keberadaan tembok tersebut untuk tidak di hilangkan mengingat merupakan bagian dari sejarah Kabupaten Kulon progo itu sendiri.
B. SD Negeri Butuh

Wilayah Yogyakarta umumnya dan Kabupaten Kulon Progo pada khususnya banyak memiliki warisan pusaka budaya berupa Cagar Budaya, khususnya bangunan-bangunan yang mempunyai nilai sejarah, khusunya di wilayah Kabupaten Kulonprogo. Salah satu sekolah Kasultanan yang didirikan di Kulon Progo adalah SD Negeri Butuh. Sekolah Kasultanan tersebut didirikan pada tahun 1916 M. Bahasa pengantar yang digunakan adalah bahasa Jawa. Guru-gurunya pada waktu itu merupakan guru lokal atau orang bumi putera. Pada masa Clash II (perang kemerdekaan) SD Negeri Butuh digunakan untuk markas para pemuda disekitar Desa Bumirejo. Hal ini untuk menjaga Desa Bumirejo karena pada saat itu ada kabar bahwa Bumirejo akan dibumihanguskan oleh tentara Belanda. Namun pada akhirnya rencana pembumihangusan itu tidak terjadi dan SD tersebut masih eksis sampai saat ini. Kegiatan pendataan dimaksudkan untuk melakukan perekaman bangunan yang dilakukan dari berbagai arah dan sudut pandang baik melalui pemotretan ataupun penggambaran, dalam rangka pelestarian dan perlindungan cagar budaya. 
C. Masjid Kedondong
Masjid Kedondong terletak di Dusun Kedondong, Banjararum, Kalibawang, Kulon Progo, Propinsi DIY. Lokasi Masjid ini jika dari arah Yogyakarta dapat dicapai dengan mengikuti Jl. P. Diponegoro (barat Tugu) lurus-Jl. Kyai Mojo-Jl. Godean-Perempatan Kenteng Nanggulan-ambil arah ke kanan (arah Muntilan). Sampai di Dusun Semaken-Kedondong sampailah di lokasi yang dimaksud.
Menurut sumber setempat Masjid Kedondong ini dibangun oleh Adipati Terung atas prakarsa Sunan Kalijaga. Pembangunan masjid itu sendiri menurut buku Rehabititasi Masjid Kedondong Kalurahan Banjararum, Kecamatan Kalibawang, Kulon Progo dibangun kira-kira pada tahun 1477 M.
Dalam buku tersebut disebutkan bahwa pada waktu itu Sunan Kalijaga hendak membangun masjid di Demak. Namun sebelum semua dilaksanakan ia bersama sahabatnya yang bernama Adipati Terung singgah di Kedondong. Di Kedondong ini Sunan Kalijaga tergerak untuk membuat ancer-ancer ‘ancar-ancar’ atau semacam patokan untuk pendirian sebuah masjid sebelum pembuatan Masjid Demak.
Pembuatan patokan oleh Sunan Kalijaga ini dilakukan dengan menancapkan tongkat atau cis-nya ke atas tanah. Penancapan itu dilkakukannya di dekat sungai yang sekarang disebut sebagai Sungai Tinalah. Setelah itu Sunan Kalijaga berpesan kepada sahabatnya yang bernama Adipati Terung yang intinya supaya Adipati Terung mendirikan masjid di tempat Sunan Kalijaga menancapkan cis.

Adipati Terung melaksanakan amanat Sunan Kalijaga itu tetapi dengan menggeser lokasi pembuatan masjid karena ia takut bahwa nantinya bangunan masjid akan tererosi karena ancar-ancar atau patokan yang dibuat Sunan Kalijaga terlalu dekat dengan bibir sungai. Apa yang dilakukan Adipati Terung ini tidak berkenan di hati Sunan Kalijaga. Sepulang dari Demak ia mampir di Kedondong dan melihat bangunan masjid tidak sesuai keletakannya dengan ancar-ancar yang dibuatnya. Oleh karena itu ia mengatakan bahwa Adipati Terung adalah orang bodoh yang tidak percaya pada kata-kata Sunan Kalijaga. Konon berdasarkan peristiwa itu Adipati Terung kemudian dikenal sebagai Panembahan Bodo. Kelak ia dimakamkan di Pijenan, Wijirejo, Pandak, Bantul, Yogyakarta. Di tempat itu pula ia kelak dikenal sebagai Syeh Sewu karena pengikutnya amat banyak.

D. Monumen Tentara Pelajar

Terletak di bagian tenggara dari Alun Alun Wates Kulon Progo. Monumen ini mengingatkan kita akan perjuangan para pelajar di kabupaten Kulon Progo dalam berjuang mengusir penjajah. Sayangnya masih banyak yang belum tau mengenai keberadaan Monumen ini.

E. Tugu Prasasti Peringatan 100 Tahun Adikarto


Tugu prasasti peringatan 100 tahun Adikarto dari Pakualam ke VII ini terletak di sisi utara palang perlintasan KA Stasiun Wates itu kondisinya sangat memprihatinkan dan penuh dengan corat-coret cat semprot (pilok, red). Selain itu, keberadaannya tidak banyak diketahui oleh masyarakat luas. Sebab, prasasti yang dibangun sejak 1925 itu kini tertutup oleh sederet gerobak pedagang kaki lima yang biasa mangkal di sekitar lokasi.

F. Stupa Glagah

Stupa Glagah, Kulon Progo

Stupa Glagah secara administratif terletak di Di Dusun Glagah, Kalurahan Sidorejo, Kecamatan Temon, Kabupatan Kulon Progo, Propinsi DIY. Keletakan Stupa Glagah ini tidak begitu jauh dari Jalan Raya Daendels (jalur selatan di wilayah itu).

Menurut beberapa sumber Stupa Glagah ini dibuat pada abad 8-9 Masehi. Latar belakang kesejarahan dari stupa ini masih kurang begitu jelas. Sekalipun demikian stupa ini menunjukkan bahwa di sekitar Sidorejo, Temon pada kisaran abad 8-9 telah dihuni manusia dengan peradaban yang relatif maju. Stupa sebagai bagian dari tempat atau sarana ibadah menunjukkan tingkat peradaban masyarakat dalam bidang spiritual telah cukup maju.

Pada sisi lain sumber setempat menyebutkan bahwa kemungkinan Stupa Glagah mempunyai kaitan dengan cerita rakyat yang sempat berkembang di tempat itu. Cerita rakyat itu menyebutkan bahwa di Glagah dulu ada wilayah yang dinamakan Kadipaten Sidorejo. Kadipaten ini dipimpin oleh Adipati Cangak Mengeng. Sementara itu di tempat lain ada sebuah kadipaten yang bernama Kadipaten Ngreyap yang dipimpin oleh Adipati Ngreyap. Suatu keduanya terlibat peperangan dan Kadipaten Sidorejo kalah. Cerita ini menyebutkan bahwa Adipati Cangak Mengeng kemudian moksa. Seiring dengan hal itu Kadipaten Sidorejo pun diratakan oleh Adipati Ngreyap.

Usai peristiwa itu apa yang dinamakan Kadipaten Sidorejo bisa dikatakan telah lenyap. Akan tetapi selang beberapa ratus tahun kemudian orang mulai bertanya-tanya tentang adanya kadipaten tersebut karena ingatan generasi ke generasi tentang Kadipaten Sidorejo ternyata tidak lenyap. Diketemukannya berbagai batuan dalam berbagai ukuran dan bentuk pada waktu yang lebih kemudian semakin mendorong banyak orang ingin tahu lebih banyak tentang cerita tutur Kadipaten Sidorejo dengan sejarah yang sesungguhnya. Penemuan Stupa Glagah pada sisi lain semakin menebalkan imajinasi atau pendapat orang tentang pernah adanya sebuah kadipaten atau kehidupan masyarakat yang cukup ramai di wilayah itu di masa lalu.

Sumber: 
http://www.tembi.net/
http://www.purbakalayogya.com
http://yogyakarta.panduanwisata.com



 
 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar